LAJNAH PANAYITSA, AQILLA and Wahyudi, Herry and Dhani, Akbar (2026) ANALISIS KONSTRUKTIVISME TERHADAP FENOMENA PENGIBARAN BENDERA ONE PIECE SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN SIMBOLIK GLOBAL TAHUN 2025. S1 thesis, Universitas Maritim Raja Ali Haji.
|
Text (COVER)
AQILLA LAJNAH PANAYITSA_2205050001_ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL_COVER.pdf Download (682kB) |
|
|
Text (ABSTRAK)
AQILLA LAJNAH PANAYITSA_2205050001_ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL_ABSTRAK.pdf - Published Version Download (194kB) |
|
|
Text (BAB 1)
AQILLA LAJNAH PANAYITSA_2205050001_ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL_BAB 1.pdf Download (310kB) |
|
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
AQILLA LAJNAH PANAYITSA_2205050001_ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL_DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (337kB) |
|
|
Text (FULL TEKS)
AQILLA LAJNAH PANAYITSA_2205050001_ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL_FULL TEKS.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini membahas fenomena pengibaran bendera One Piece sebagai bentuk perlawanan simbolik global pada tahun 2025. Fenomena ini menunjukkan bahwa simbol budaya populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau identitas penggemar, tetapi juga dapat mengalami pemaknaan ulang sebagai media ekspresi sosial-politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses konstruksi makna yang membuat bendera One Piece dipahami sebagai simbol perlawanan serta menjelaskan bagaimana makna tersebut menyebar melintasi batas nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan teori konstruktivisme Nicholas G. Onuf dan konsep popular dissent Roland Bleiker. Data penelitian bersumber dari data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka dan studi dokumentasi, meliputi artikel ilmiah, buku, pemberitaan media daring, laporan media, unggahan media sosial, foto, video, tagar, komentar publik, serta dokumen digital lain yang relevan. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna bendera One Piece sebagai simbol perlawanan dikonstruksikan melalui tiga tahapan, yaitu deeds, rules, dan practice. Pada tahap deeds, simbol digunakan melalui tindakan fisik, digital, dan bahasa. Pada tahap rules, terbentuk pemahaman bersama yang menempatkan bendera One Piece sebagai simbol kritik, kebebasan, solidaritas, dan penolakan terhadap ketidakadilan. Pada tahap practice, penggunaan simbol secara berulang di ruang fisik dan digital memperkuat makna tersebut hingga dikenali dalam berbagai konteks negara. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengibaran bendera One Piece dapat dipahami sebagai bentuk popular dissent yang menunjukkan bahwa politik global juga bekerja melalui simbol, visualitas, media digital, dan praktik masyarakat dalam membentuk makna politik lintas batas negara.
| Item Type: | Thesis (S1) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
|||||||||
| Subjects: | 300. Ilmu Sosial > 360 Permasalahan dan Kesejahteraan Sosial > 361.2 Social Action/Aksi Sosial | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Program Studi Hubungan Internasional | |||||||||
| Depositing User: | user HI | |||||||||
| Date Deposited: | 05 Aug 2026 02:14 | |||||||||
| Last Modified: | 05 Aug 2026 02:14 | |||||||||
| URI: | http://repositori.umrah.ac.id/id/eprint/11673 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
